Sabtu, 29 November 2008

Senyumlah, Dunia Akan Mencintaimu!


Ponijan Liaw
ponijan@central.net.id
Penulis Buku-buku Bestseller Komunikasi & Zen


Anda pasti pernah mendengar kisah tentang betapa sakitnya penderitaan seorang ibu saat ia melahirkan seorang anak. Segala daya dan upaya plus nyawa yang bersemayam dalam fisiknya pun disiapkan demi lahirnya sang dambaan hati itu. Namun, segala penderitaan fisik yang berlangsung selama sembilan bulan itu, pupus karena melihat sang bayi lahir dengan selamat. Segala keletihan fisik dalam membesarkan sang balita pun terbayar lunas dan tuntas ketika melihat sang belahan jiwa tersenyum. Yah, hanya dengan senyuman seluruh sendi ragawi yang letih terasa mendapatkan injeksi vitamin yang memulihkan dan menguatkan diri. Fenomena alami ini akan terus berlaku sepanjang peradaban manusia di bumi.

Bagi yang belum pernah merasakan punya bayi, barangkali pernah jatuh cinta kepada seorang pujaan hati. Ingat-ingatlah dengan teliti, apa yang menarik dari calon pasangan kekasih Anda itu. Matanya, bibirnya, hidungnya, kakinya, kulitnya atau panca indra lainnya. Namun, survei juga membuktikan bahwa ada salah satu yang selalu menarik simpati: senyumannya! Yah, Anda tertarik pada calon pasangan Anda karena senyumnya, meminjam bahasa pujangga, sebagai madu yang tidak akan pernah habis manisnya. Nikmat sekali! Itulah senyuman.

Sebaliknya, jika Anda bertemu dengan orang yang baru saja hendak disapa tapi sudah memalingkan muka dengan wajah ditekuk delapan (manyun habis). Pastinya rasa jengkel, marah, terhina dan terlecehkan pun berkecamuk di ruang afeksi yang seyogianya tidak berisi energi negarif tersebut. Orang jenis itu (tanpa senyum) pastinya tidak akan mampu mengoleksi varian sahabat yang pada saatnya nanti mungkin akan menjadi partner bisnisnya. Konsekuensi logis dari sebuah karakter buruk tanpa senyum itu adalah terpasung dan terisolasinya sang pelaku dari hiruk-pikuk keramaian kota. Jelas, sisi negatif dan destruktif akan lebih mengemuka dalam kehidupannya. Jadi, silah senyum sekarang! Semoga senyum itu bertahan terus selama matahari masih disana!

Catatan:
Untuk penjelasan lengkap mengenai hal-hal di atas, silahkan baca buku penulis yang berjudul “Talk to Your Customer This Way.”

Kala Cinta Menjadi Harta


Oleh: Ponijan Liaw
Pelatih & Penulis Buku-buku Komunikasi
Email: ponijan@central.net.id

"Jangan menangis, kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan" (Kahlil Gibran).

Kahlil Gibran, tidak sendirian soal cinta. Setua peradaban dunia, sepanjang itu pulalah cinta menjadi pemicu dan pemacu peradaban itu. Di setiap ruang sejarah, cinta selalu menjadi inspirasi perbincangan yang tidak pernah surut ditelan jaman. Ada kisah Romeo dan Juliet, Sam Pek dan Eng Tay, Layla dan Majnun sampai dengan Loro Jonggrang dan Bandung Bandawasa. Salah satu kisah yang dikristalisasikan secara nyata ada di India: Taj Mahal. Adalah Syah Jehan, sultan kelima dari kerajaan Islam Mughal di India yang akhirnya menikahi Mumtaz Mahal yang bernama asli Arjanumd Banu Begam, pada tahun 1612. Dikisahkan bahwa Syah Jehan sangat mencintai istrinya. Ia tidak dapat tidur tanpa melihat istrinya terlebih dahulu. Namun sayangnya, pada tahun 1931, pada saat melahirkan anak ke-14, sang permaisuri meninggal. Sebagai bentuk penghormatan dan perwujudan rasa cintanya, Shah Jehan membangun Taj Mahal di tepi sungai Yamuna, Agra, India. Pembangunan itu berlangsung selama 23 tahun, dari tahun 1631 sampai 1653. Arsitekturnya dirancang oleh arsitek Iran terkemuka pada masa itu, Isa. Pembangunannya melibatkan 20.000 tenaga kerja dan 1000 ekor gajah pengangkut bangunan marmer. Dan sejarah mencatat bahwa monumen cinta fenomenal ini akhirnya menjadi salah satu keajaiban dunia. Untuk melengkapi legenda cinta jaman purba itu, baiknya kita lihat cukilan kisah asmara kontemporer yang dilakoni oleh Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan kekasihnya, mantan supermodel Carla Bruni. Pasangan yang tengah dimabuk cinta ini menautkan cintanya di mana saja berada. Sampai-sampai sang Presiden Perancis yang flamboyan ini harus melakukan gugatan terhadap maskapai penerbangan Ryanair karena iklan maskapai penerbangan murah tersebut yang memampang foto mesranya dengan sang kekasih, Carla Bruni di suatu tempat.


Mahadaya Cinta
Mengapa cinta begitu dahsyat menguras energi psikis dan fisik manusia? Para ahli mencoba mencari sumber mahadaya cinta itu. Dr. Harold Voth, seorang psikater dari Kansas, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai hormon cinta dan kedamaian yang disebut hormon oxytocin. Hormon ini akan bekerja sempurna saat orang yang sedang jatuh cinta berpelukan. Bukan hanya kasih sayang yang akan muncul dari aktivitas jasmani ini, melainkan juga hilangnya stres dan depresi. Karena pada kondisi ini, hormon oxytocin di dalam tubuh akan menekan cortisol dan norepinephrine (hormon pemicu stres). Begitu dahsyatnya kekuatan cinta. Karenanya, setiap orang pasti berhasrat untuk membangkitkan hormon jasmani laten itu agar biaya perawatan medis bisa direduksi.

Tidak heran jika para pekerja seni pun berlomba-lomba menggarap lahan yang tidak pernah kering ini dengan membuat sederetan film bernuansa cinta. Sebutlah Gita Cinta dari SMA, Titanic, Meteor Garden, sampai dengan Love is Cinta. Kesemuanya mahir membaca kebutuhan pasar yang memang sangat haus akan kisah-kisah romantis pembangkit semangat hidup itu. Dan terbukti, seluruh film/sinetron itu meraih box office yang muaranya menebalkan kantong sang produser.

Corporation with Love Management
Ahmad Dhani adalah contoh seorang entrepreneur sejati di industri musik ketika membangun ‘Republik Cinta’-nya. Tidak jelas memang mengapa ia memakai nama itu. Tapi lihat saja, seluruh karyanya dengan berbagai label dan artis, laris manis di pasaran. Dengarkan saja betapa akrabnya lagu-lagu ini di telinga kita, ’Arjuna’, ’Laskar Cinta’, ’Virus Cinta’, Munajat Cinta’, sampai dengan ’Mahluk Tuhan Paling Sexy.’ Semuanya bercerita tentang cinta. Bisa dibayangkan, berapa kocek yang didapatkan oleh sang pengagum Bung Karno ini setiap kali lagu-lagunya ditayangkan di media elektronik dan pentas seni. Cinta ternyata bisa di-manage dan dijadikan sebagai profit center jika ditangani secara monumenal dan profesional.

Sebagai pembanding, baiknya kita lihat corporate di luar yang menggunakan manajemen gaya ini. Matsushita Electric dan Body Shop adalah dua di antara ribuan korporasi yang menerapkan manajemen dengan cinta. Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric dan Anita Roddick, pemilik Body Shop memang tidak pernah bertemu secara fisik. Namun, konsep mereka tentang manajemen corporate dengan cinta membuat keduanya bertemu di dunia virtual sebagai tokoh yang dikenang sejarah. Buat Konosuke, laba bukanlah keuntungan materi semata, melainkan setiap tetes keringat yang dikeluarkan oleh karyawannya. Oleh karenanya, cintailah mereka. Karena tanpa mereka corporate tidak akan kemana-mana. Begitulah kira-kira filosofi penuh cinta yang pernah dikonsepkan sang pelopor elektronik dunia ini. Anita Roddick, sebagai generasi lebih muda juga tidak kalah kadar cintanya kepada alam semesta dalam menjalankan roda bisnisnya. Dia dengan lantang dan tegas, siap menghadapi risiko pasar, memproduksi kosmetika dengan sebuah misi penting: bebas dari perusakan lingkungan dan makhluk hidup (termasuk hewan di dalamnya). Dengan gagah dan berani, kedai kecantikan ini memasang slogan "Against Animal Testing." Seluruh produk bebas dari percobaan terhadap hewan! Lebih jauh lagi, toko ini bahkan menerima kembali kemasan The Body Shop yang sudah kosong di outlet-nya, untuk didaur ulang! Mengagumkan! Esensi misinya konsisten: tidak boleh ada pengorbanan terhadap makhluk lain demi keuntungan ekonomi. Dengan praktek itu, corporate ini tetap menggurita di seluruh dunia sampai saat ini. Kedua tokoh, Matsushita dan Roddick, mencoba merasakan betapa ajaibnya cinta jika dikelola dengan bijaksana. Anda butuh cinta, setiap orang pasti juga. Karenanya, renungkanlah apa yang diucapkan Majnun kepada sahabatnya ketika ia diolok-olok karena jatuh cinta pada seorang gadis seburuk Layla: ‘untuk melihat betapa cantiknya Layla, kau harus meminjam mataku.’ Benar! Setiap orang harus melihat dari perspektif yang benar dan tepat untuk merasakan betapa cinta itu ada dan mahakuasa.

Dengan demikian, masihkah ada keraguan untuk mengelola korporasi dengan cinta demi mengisi pundi-pundi harta secara lebih manusiawi dan bijaksana? Selamat berhari kasih sayang 2008!