Oleh: Ponijan Liaw
Pelatih & Penulis Buku-buku Komunikasi
Email: ponijan@central.net.id
Setelah berlalunya topan Gustav yang menyerang daratan AS, 130 kilometer bagian barat daya New Orleans, Lousiana, datanglah tiga badai lain, yang kemungkinan menjadi topan, yakni Hanna, Ike, dan Josephine. Kekuatan ketiga badai itu secara perlahan bertambah dan membawa tingkat curah hujan sangat tinggi.
Itulah berita yang menghiasi pojok berita dunia kita saat ini. Betapa dahsyat dan menghancurkan sesungguhnya akibat dari badai tersebut terhadap permukiman warga setempat. Namun, untaian kata yang disandangkan pada fenomena alam yang mengerikan tersebut masih dibuat indah dan menawan. Hal ini tentu bukan tanpa maksud. Karena para penggagas terminologi itu menyadari betapa kata-kata yang hanya terdiri dari susunan alfabet sederhana itu memiliki daya pengaruh psikologis yang luar biasa dan bisa berdampak negatif dan destruktif jika tidak dirangkai secara bijaksana. Karenanya, sang empunya otoritas, badan meteorologi dunia, pun membuat nama-nama badai yang sesungguhnya sangat menghancurkan dan mematikan itu dengan terminologi indah dan menghibur. Ada sederet koleksi nama-nama indah selain yang disebutkan di atas yang diciptakan sejak tahun 2005: Arlene, Bret, Cindy, Dennis, Emily, Franklin, Gert, Harvey, Irene, Jose, Katrina Lee, Maria, Nate, Ophelia, Philippe, Rita, Stan, Tammy, Vince, Wilma. Sistem penamaan badai dirotasi setiap enam tahun sehingga daftar ini akan digunakan lagi pada 2011, dengan perkecualian badai paling mematikan akan dikeluarkan dari daftar. Katrina tampaknya menjadi calon utama yang akan tersingkir enam tahun lagi, seperti Floyd dan Lenny yang ada di daftar 1999 namun tahun ini "pensiun" digantikan Franklin dan Lee. Nama-nama yang indah, bukan? Kesan seram dan menakutkan menjadi sirna karena kekuatan keindahan terminologi itu. Hal ini menandakan betapa mahadaya untaian kata sangat memengaruhi suasana hati dan fisik pendengarnya. Jika derita fisik dan psikis yang tidak dapat ditolak bisa diringankan hanya dengan untaian kata, mengapa usaha ini tidak dijadikan menu utama dalam setiap bencana?
Words are powerful. Kata-kata sungguh berdaya. Kata-kata positif akan membuat pendengarnya optimis, percaya diri, semangat, inovatif, kreatif, energik, bahagia dan sejenisnya. Ada kebangkitan semangat hidup disana. Dunia terasa indah dan menjanjikan. Perubahan lebih baik tengah menanti untuk segera diukir oleh kekuatan mental positif yang beranggotakan kata-kata motivasional positif dan konstruktif. Sebaliknya, kata-kata negatif dapat membuat kondisi sebaliknya. Pendengarnya akan menjadi pesimis, minder, tidak percaya diri, frustrasi, patah hati, antipati, sedih, kecewa, merana, tercampakkan, teraniaya, terluka, terkebiri sampai akhirnya harakiri. Hidup terasa hampa. Biarlah mengalir seperti apa adanya. Tidak ada daya disana. Tidak pula ada upaya. Semuanya pasrah, pasrah dan pasrah. Biar nasib yang bekerja sendiri. Inilah konsekuensi logis dan nyata dari pengaruh kata-kata.
Mengacu dan berpedoman pada kekuatan pemilihan dan penggunaan kata-kata itu, sebaiknya ada saringan yang dilakukan terlebih dahulu ketika berhadapan dengan para pelanggan. Kata-kata kurang baik sebaiknya ditelan saja demi menjaga hubungan relasi agar tetap baik. Berkaitan dengan hal ini, seorang tokoh besar Inggris, Sir Winston Churchill, punya pribahasa yang tepat soal ini, ‘by swallowing evil words unsaid, no one has ever harmed his stomach.’ Denyut perut yang menggelisahkan tidak akan terjadi jika kata-kata kurang baik tidak jadi diucapkan kepada orang lain. Suasana perbincangan akan tetap kondusif dan simpatik. Karena sesungguhnya, sebagaimana dikuatkan oleh sebuah pepatah Tionghoa – kata-kata yang manis (positif) akan bisa menghangatkan jasmani selama tiga musim dingin, sementara kata-kata kasar (negatif) bahkan bisa menjadi puncak ultimat di musim panas. Demikian bunyi lengkap pribahasanya: ‘kind words can warm for three winters, while harsh words can chill even in the heat of summer.’
Rasanya tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan dan dipertentangkan soal kekuatan pengaruh kata-kata dalam kehidupan sehari-sehari, terutama buat dunia usaha. Pengelolaan kata yang baik dan strategis pastinya akan mendatangkan simpati. Rasa simpati akan menjelma menjadi relasi. Relasi akan bermetamorfosis menjadi diskusi bisnis yang akhirnya bermuara pada usaha mutualistis yang menambah kesejahteraan hidup financially seperti kata pribahasa, ’if someone were to pay you 10 cents for every kind word you ever spoke and collect from you 5 cents for every unkind word, would you be rich or poor? Jika ada orang yang mau membayar 10 sen untuk setiap kata baik yang Anda ucapkan dan mengutip 5 sen untuk setiap kata tidak baik, Anda akan menjadi kaya atau miskin? Silahkan pilih sendiri. Mau mendapatkan 10 sen atau hanya 5 sen?
Senin, 15 Desember 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
