
Oleh: Ponijan Liaw
Pelatih & Penulis Buku-buku Komunikasi
Email: ponijan@central.net.id
"Jangan menangis, kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan" (Kahlil Gibran).
Kahlil Gibran, tidak sendirian soal cinta. Setua peradaban dunia, sepanjang itu pulalah cinta menjadi pemicu dan pemacu peradaban itu. Di setiap ruang sejarah, cinta selalu menjadi inspirasi perbincangan yang tidak pernah surut ditelan jaman. Ada kisah Romeo dan Juliet, Sam Pek dan Eng Tay, Layla dan Majnun sampai dengan Loro Jonggrang dan Bandung Bandawasa. Salah satu kisah yang dikristalisasikan secara nyata ada di India: Taj Mahal. Adalah Syah Jehan, sultan kelima dari kerajaan Islam Mughal di India yang akhirnya menikahi Mumtaz Mahal yang bernama asli Arjanumd Banu Begam, pada tahun 1612. Dikisahkan bahwa Syah Jehan sangat mencintai istrinya. Ia tidak dapat tidur tanpa melihat istrinya terlebih dahulu. Namun sayangnya, pada tahun 1931, pada saat melahirkan anak ke-14, sang permaisuri meninggal. Sebagai bentuk penghormatan dan perwujudan rasa cintanya, Shah Jehan membangun Taj Mahal di tepi sungai Yamuna, Agra, India. Pembangunan itu berlangsung selama 23 tahun, dari tahun 1631 sampai 1653. Arsitekturnya dirancang oleh arsitek Iran terkemuka pada masa itu, Isa. Pembangunannya melibatkan 20.000 tenaga kerja dan 1000 ekor gajah pengangkut bangunan marmer. Dan sejarah mencatat bahwa monumen cinta fenomenal ini akhirnya menjadi salah satu keajaiban dunia. Untuk melengkapi legenda cinta jaman purba itu, baiknya kita lihat cukilan kisah asmara kontemporer yang dilakoni oleh Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan kekasihnya, mantan supermodel Carla Bruni. Pasangan yang tengah dimabuk cinta ini menautkan cintanya di mana saja berada. Sampai-sampai sang Presiden Perancis yang flamboyan ini harus melakukan gugatan terhadap maskapai penerbangan Ryanair karena iklan maskapai penerbangan murah tersebut yang memampang foto mesranya dengan sang kekasih, Carla Bruni di suatu tempat.
Mahadaya Cinta
Mengapa cinta begitu dahsyat menguras energi psikis dan fisik manusia? Para ahli mencoba mencari sumber mahadaya cinta itu. Dr. Harold Voth, seorang psikater dari Kansas, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai hormon cinta dan kedamaian yang disebut hormon oxytocin. Hormon ini akan bekerja sempurna saat orang yang sedang jatuh cinta berpelukan. Bukan hanya kasih sayang yang akan muncul dari aktivitas jasmani ini, melainkan juga hilangnya stres dan depresi. Karena pada kondisi ini, hormon oxytocin di dalam tubuh akan menekan cortisol dan norepinephrine (hormon pemicu stres). Begitu dahsyatnya kekuatan cinta. Karenanya, setiap orang pasti berhasrat untuk membangkitkan hormon jasmani laten itu agar biaya perawatan medis bisa direduksi.
Tidak heran jika para pekerja seni pun berlomba-lomba menggarap lahan yang tidak pernah kering ini dengan membuat sederetan film bernuansa cinta. Sebutlah Gita Cinta dari SMA, Titanic, Meteor Garden, sampai dengan Love is Cinta. Kesemuanya mahir membaca kebutuhan pasar yang memang sangat haus akan kisah-kisah romantis pembangkit semangat hidup itu. Dan terbukti, seluruh film/sinetron itu meraih box office yang muaranya menebalkan kantong sang produser.
Corporation with Love Management
Ahmad Dhani adalah contoh seorang entrepreneur sejati di industri musik ketika membangun ‘Republik Cinta’-nya. Tidak jelas memang mengapa ia memakai nama itu. Tapi lihat saja, seluruh karyanya dengan berbagai label dan artis, laris manis di pasaran. Dengarkan saja betapa akrabnya lagu-lagu ini di telinga kita, ’Arjuna’, ’Laskar Cinta’, ’Virus Cinta’, Munajat Cinta’, sampai dengan ’Mahluk Tuhan Paling Sexy.’ Semuanya bercerita tentang cinta. Bisa dibayangkan, berapa kocek yang didapatkan oleh sang pengagum Bung Karno ini setiap kali lagu-lagunya ditayangkan di media elektronik dan pentas seni. Cinta ternyata bisa di-manage dan dijadikan sebagai profit center jika ditangani secara monumenal dan profesional.
Sebagai pembanding, baiknya kita lihat corporate di luar yang menggunakan manajemen gaya ini. Matsushita Electric dan Body Shop adalah dua di antara ribuan korporasi yang menerapkan manajemen dengan cinta. Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric dan Anita Roddick, pemilik Body Shop memang tidak pernah bertemu secara fisik. Namun, konsep mereka tentang manajemen corporate dengan cinta membuat keduanya bertemu di dunia virtual sebagai tokoh yang dikenang sejarah. Buat Konosuke, laba bukanlah keuntungan materi semata, melainkan setiap tetes keringat yang dikeluarkan oleh karyawannya. Oleh karenanya, cintailah mereka. Karena tanpa mereka corporate tidak akan kemana-mana. Begitulah kira-kira filosofi penuh cinta yang pernah dikonsepkan sang pelopor elektronik dunia ini. Anita Roddick, sebagai generasi lebih muda juga tidak kalah kadar cintanya kepada alam semesta dalam menjalankan roda bisnisnya. Dia dengan lantang dan tegas, siap menghadapi risiko pasar, memproduksi kosmetika dengan sebuah misi penting: bebas dari perusakan lingkungan dan makhluk hidup (termasuk hewan di dalamnya). Dengan gagah dan berani, kedai kecantikan ini memasang slogan "Against Animal Testing." Seluruh produk bebas dari percobaan terhadap hewan! Lebih jauh lagi, toko ini bahkan menerima kembali kemasan The Body Shop yang sudah kosong di outlet-nya, untuk didaur ulang! Mengagumkan! Esensi misinya konsisten: tidak boleh ada pengorbanan terhadap makhluk lain demi keuntungan ekonomi. Dengan praktek itu, corporate ini tetap menggurita di seluruh dunia sampai saat ini. Kedua tokoh, Matsushita dan Roddick, mencoba merasakan betapa ajaibnya cinta jika dikelola dengan bijaksana. Anda butuh cinta, setiap orang pasti juga. Karenanya, renungkanlah apa yang diucapkan Majnun kepada sahabatnya ketika ia diolok-olok karena jatuh cinta pada seorang gadis seburuk Layla: ‘untuk melihat betapa cantiknya Layla, kau harus meminjam mataku.’ Benar! Setiap orang harus melihat dari perspektif yang benar dan tepat untuk merasakan betapa cinta itu ada dan mahakuasa.
Dengan demikian, masihkah ada keraguan untuk mengelola korporasi dengan cinta demi mengisi pundi-pundi harta secara lebih manusiawi dan bijaksana? Selamat berhari kasih sayang 2008!
Pelatih & Penulis Buku-buku Komunikasi
Email: ponijan@central.net.id
"Jangan menangis, kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan" (Kahlil Gibran).
Kahlil Gibran, tidak sendirian soal cinta. Setua peradaban dunia, sepanjang itu pulalah cinta menjadi pemicu dan pemacu peradaban itu. Di setiap ruang sejarah, cinta selalu menjadi inspirasi perbincangan yang tidak pernah surut ditelan jaman. Ada kisah Romeo dan Juliet, Sam Pek dan Eng Tay, Layla dan Majnun sampai dengan Loro Jonggrang dan Bandung Bandawasa. Salah satu kisah yang dikristalisasikan secara nyata ada di India: Taj Mahal. Adalah Syah Jehan, sultan kelima dari kerajaan Islam Mughal di India yang akhirnya menikahi Mumtaz Mahal yang bernama asli Arjanumd Banu Begam, pada tahun 1612. Dikisahkan bahwa Syah Jehan sangat mencintai istrinya. Ia tidak dapat tidur tanpa melihat istrinya terlebih dahulu. Namun sayangnya, pada tahun 1931, pada saat melahirkan anak ke-14, sang permaisuri meninggal. Sebagai bentuk penghormatan dan perwujudan rasa cintanya, Shah Jehan membangun Taj Mahal di tepi sungai Yamuna, Agra, India. Pembangunan itu berlangsung selama 23 tahun, dari tahun 1631 sampai 1653. Arsitekturnya dirancang oleh arsitek Iran terkemuka pada masa itu, Isa. Pembangunannya melibatkan 20.000 tenaga kerja dan 1000 ekor gajah pengangkut bangunan marmer. Dan sejarah mencatat bahwa monumen cinta fenomenal ini akhirnya menjadi salah satu keajaiban dunia. Untuk melengkapi legenda cinta jaman purba itu, baiknya kita lihat cukilan kisah asmara kontemporer yang dilakoni oleh Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan kekasihnya, mantan supermodel Carla Bruni. Pasangan yang tengah dimabuk cinta ini menautkan cintanya di mana saja berada. Sampai-sampai sang Presiden Perancis yang flamboyan ini harus melakukan gugatan terhadap maskapai penerbangan Ryanair karena iklan maskapai penerbangan murah tersebut yang memampang foto mesranya dengan sang kekasih, Carla Bruni di suatu tempat.
Mahadaya Cinta
Mengapa cinta begitu dahsyat menguras energi psikis dan fisik manusia? Para ahli mencoba mencari sumber mahadaya cinta itu. Dr. Harold Voth, seorang psikater dari Kansas, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai hormon cinta dan kedamaian yang disebut hormon oxytocin. Hormon ini akan bekerja sempurna saat orang yang sedang jatuh cinta berpelukan. Bukan hanya kasih sayang yang akan muncul dari aktivitas jasmani ini, melainkan juga hilangnya stres dan depresi. Karena pada kondisi ini, hormon oxytocin di dalam tubuh akan menekan cortisol dan norepinephrine (hormon pemicu stres). Begitu dahsyatnya kekuatan cinta. Karenanya, setiap orang pasti berhasrat untuk membangkitkan hormon jasmani laten itu agar biaya perawatan medis bisa direduksi.
Tidak heran jika para pekerja seni pun berlomba-lomba menggarap lahan yang tidak pernah kering ini dengan membuat sederetan film bernuansa cinta. Sebutlah Gita Cinta dari SMA, Titanic, Meteor Garden, sampai dengan Love is Cinta. Kesemuanya mahir membaca kebutuhan pasar yang memang sangat haus akan kisah-kisah romantis pembangkit semangat hidup itu. Dan terbukti, seluruh film/sinetron itu meraih box office yang muaranya menebalkan kantong sang produser.
Corporation with Love Management
Ahmad Dhani adalah contoh seorang entrepreneur sejati di industri musik ketika membangun ‘Republik Cinta’-nya. Tidak jelas memang mengapa ia memakai nama itu. Tapi lihat saja, seluruh karyanya dengan berbagai label dan artis, laris manis di pasaran. Dengarkan saja betapa akrabnya lagu-lagu ini di telinga kita, ’Arjuna’, ’Laskar Cinta’, ’Virus Cinta’, Munajat Cinta’, sampai dengan ’Mahluk Tuhan Paling Sexy.’ Semuanya bercerita tentang cinta. Bisa dibayangkan, berapa kocek yang didapatkan oleh sang pengagum Bung Karno ini setiap kali lagu-lagunya ditayangkan di media elektronik dan pentas seni. Cinta ternyata bisa di-manage dan dijadikan sebagai profit center jika ditangani secara monumenal dan profesional.
Sebagai pembanding, baiknya kita lihat corporate di luar yang menggunakan manajemen gaya ini. Matsushita Electric dan Body Shop adalah dua di antara ribuan korporasi yang menerapkan manajemen dengan cinta. Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric dan Anita Roddick, pemilik Body Shop memang tidak pernah bertemu secara fisik. Namun, konsep mereka tentang manajemen corporate dengan cinta membuat keduanya bertemu di dunia virtual sebagai tokoh yang dikenang sejarah. Buat Konosuke, laba bukanlah keuntungan materi semata, melainkan setiap tetes keringat yang dikeluarkan oleh karyawannya. Oleh karenanya, cintailah mereka. Karena tanpa mereka corporate tidak akan kemana-mana. Begitulah kira-kira filosofi penuh cinta yang pernah dikonsepkan sang pelopor elektronik dunia ini. Anita Roddick, sebagai generasi lebih muda juga tidak kalah kadar cintanya kepada alam semesta dalam menjalankan roda bisnisnya. Dia dengan lantang dan tegas, siap menghadapi risiko pasar, memproduksi kosmetika dengan sebuah misi penting: bebas dari perusakan lingkungan dan makhluk hidup (termasuk hewan di dalamnya). Dengan gagah dan berani, kedai kecantikan ini memasang slogan "Against Animal Testing." Seluruh produk bebas dari percobaan terhadap hewan! Lebih jauh lagi, toko ini bahkan menerima kembali kemasan The Body Shop yang sudah kosong di outlet-nya, untuk didaur ulang! Mengagumkan! Esensi misinya konsisten: tidak boleh ada pengorbanan terhadap makhluk lain demi keuntungan ekonomi. Dengan praktek itu, corporate ini tetap menggurita di seluruh dunia sampai saat ini. Kedua tokoh, Matsushita dan Roddick, mencoba merasakan betapa ajaibnya cinta jika dikelola dengan bijaksana. Anda butuh cinta, setiap orang pasti juga. Karenanya, renungkanlah apa yang diucapkan Majnun kepada sahabatnya ketika ia diolok-olok karena jatuh cinta pada seorang gadis seburuk Layla: ‘untuk melihat betapa cantiknya Layla, kau harus meminjam mataku.’ Benar! Setiap orang harus melihat dari perspektif yang benar dan tepat untuk merasakan betapa cinta itu ada dan mahakuasa.
Dengan demikian, masihkah ada keraguan untuk mengelola korporasi dengan cinta demi mengisi pundi-pundi harta secara lebih manusiawi dan bijaksana? Selamat berhari kasih sayang 2008!

2 komentar:
ceritanya bagus..
bagaimana dengan cinta karena harta??
apakah cinta selamanya membuat manusia bahagia??
mengapa cinta bisa membuat duka??
Ini entri yang menarik. Terima kasih sudah berbagi cerita. Kalau mau referensi lain tentang hal yang terhubung, baca artikel Mengapa Sulit Jatuh Cinta di blog saya. Salam kenal, sobat.
Lex dePraxis
Romantic Renaissance
Posting Komentar